Kenapa Milenial dan Gen Z Wajib Baca

(REVIEW BUKU) Bumi Manusia Novel: Kenapa Milenial dan Gen Z Wajib Baca

Bumi manusia (novel) – Pramoedya Ananta Toer kerap menyebut buku-buku yang ia tulis adalah anak-anak rohaninya. Dari sekian banyak anak rohaninya, empat novel yang kerap disebut Tetralogi Buru adalah karya monumentalnya. Empat novel tersebut yakni, yang pertama Bumi Manusia, lalu dilanjutkan Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Keempat novel itu berkaitan tapi juga bisa dibaca sendiri.

Tahun ini kita bakal menyaksikan versi film Bumi Manusia. Namun, sebelum nonton filmnya kamu wajib baca bukunya. Sebab, sayang banget kalau kamu sampai enggak kenal dengan novel yang mendunia ini. Tapi omong-omong apa sih yang bikin Tetralogi Buru wajib kamu baca?

Orang boleh berpendapat yang membuat novel-novel itu jadi legenda lantaran kisah di balik penulisannya. Kisahnya memang layak jadi film sendiri karena penuh drama, ketegangan, dan aksi.

Film
Sumber: Film Bumi Manusia Official Instagram

Ide cerita novel ini telah ada di benak Pram sejak 1950-an. Sastrawan Eka Kurniawan yang menulis buku tentang Pram mencatat, Tetralogi Buru merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab: apa itu menjadi Indonesia.

Pada masa itu, perkara menjadi Indonesia sedang hangat—jika tak bisa dikatakan panas—ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia (Tempo, 19 Mei 2008).

Minke, karakter utama di novel ini, terinspirasi dari sosok nyata Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama, Medan Prijaji.  Tirto model sempurna embrio Indonesia modern, karena perintis pers dan salah satu tokoh awal nasionalisme di permulaan abad 20.  

Cerita Pembuatan Novel Bumi Manusia

Sejarah mencatat, Pram berada di posisi yang kalah dalam pertarungan kekuasaan pada 1960-an. Maka, sebagai seniman berhaluan kiri dan pentolan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI, ia dipenjara rezim Orde Baru Soeharto tanpa pernah diadili.

Koleksi buku-buku dan catatan arsipnya, termasuk manuskrip novel-novel yang belum terbit, dibakar tentara. Pram juga dibuang ke Pulau Buru, di kepulauan Maluku, selama sepuluh tahun dari 1969-1979.  

Hanya bermodalkan ingatan, Pram menyusun cerita novel di pulau tersebut. Cerita semula ia susun secara lisan dan dikisahkan pada sesama tahanan. Baru pada 1980, setelah mengumpulkan catatan yang berserakan yang diam-diam diselundupkan keluar Buru, novel pertama Bumi Manusia terbit.

Setelah enam bulan edar, novel Bumi Manusia jadi bacaan terlarang. Pemerintahan Soeharto menuding novelnya mengandung ajaran Marxisme dan Leninisme. Namun dari situ Pram dan karyanya malah melegenda di dalam dan luar negeri.

Film
Sumber: Falcon Pictures instagram

Di mata aktivis penentang orde baru, buku-buku Pram jadi simbol perlawanan. Sedang, di luar negeri ia contoh nyata korban pelanggaran HAM sebuah rezim anti-demokrasi.  

Namun salah besar bila menganggap novel Bumi Manusia dan tiga novel Buru lainnya besar karena cerita di balik penulisannya. Semua cerita seru itu takkan berguna bila karyanya sendiri amatiran.

Koran New York Times memuji novel Bumi Manusia sebagai contoh karya sastra yang indah dari Indonesia. Sedang koran Washington Post memujinya sebagai salah satu karya seni terbesar abad ke-20.

Sampai di sini kamu mungkin bertanya, apa sih yang bikin novel Bumi Manusia disebut karya besar?    

Cerita Novel Bumi Manusia, cerita cinta semata?

Kita awali dengan sedikit uraian cerita novelnya. Alkisah, di pergantian abad 19 ke 20 kita bertemu sosok Minke, pemuda Jawa terpelajar yang tengah menempuh pendidikan HBS, setingkat SMA masa kini.

Namun hanya keturunan pribumi terpandang yang bisa menempuhnya. Suatu hari, ia diajak kawan berkunjung ke sebuah rumah besar bak istana.

Di rumah itu ia bertemu Nyai Ontosoroh perempuan Jawa usia 30-an yang jadi istri simpanan, laki-laki Belanda bernama Herman Mellema. Perempuan ini punya dua anak, seorang laki-laki dan adik perempuannya. Yang perempuan bernama Annelies. Minke jatuh hati pada Annelies, begitu juga sebaliknya.

Film
Sumber: Falcon Pictures instagram

Mereka berkasih-kasihan lalu memutuskan menikah. Tapi hukum menentang pernikahan tersebut. Minke dan Annelies harus berpisah.

Membaca alur cerita novelnya, versi filmnya sangat mungkin bakal lebih mengeksplorasi sisi romantis ceritanya. Penonton mungkin sekali bakal dibuat tersipu dengan gaya pacaran Minke dan Annelies. Ya, versi filmnya bakal terpeleset jadi Dilan 1990.

Namun bila itu sampai kejadian, maka karya ini telah dicederai. Karena yang ingin disampaikan Pram bukan kisah cinta Minke dan Annelies. Yang ingin ia sampaikan tentang derita rakyat jajahan, berikut perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa.

Tragedi Minke, Annelies dan Nyai Ontosoroh

Di masa Orde Baru Soeharto novel ini bacaan terlarang. Orang bisa dipenjara atas tuduhan melawan penguasa hanya karena kedapatan memiliki buku ini. Banyak pembaca novelnya yang juga aktivis pro demokrasi penentang Orde Baru merasa dekat dengan isi novelnya. Bagi mereka rezim kala itu tak ubahnya penguasa lalim di Bumi Manusia.

Novel ini juga sebuah gambaran tragedi yang ironis dan berakhir menyedihkan bagi Minke. Di awal novel kita mendapati Minke yang kagum pada peradaban Barat. Berkat pendidikan dan ilmu pengetahuan, Barat telah demikian maju. Minke mencela asal-usulnya yang masih tenggelam dalam primordialisme dan percaya takhayul. Ia mengidentifikasi diri sebagai manusia modern.

Namun bisakah seorang rakyat jajahan jadi manusia modern? Apa ia bisa setara dengan kaum kulit putih yang berada di puncak piramida kelas? Lebih dari itu, secerdas apapun ia, sekagum apapun ia pada peradaban dan nilai modernisme yang dibawa kaum penjajah, relakah sang penjajah memberi tempat baginya?

Film
Sumber: Falcon Pictures instagram

Lalu kita juga berjumpa dengan Annelies. Ia bukan tokoh perempuan yang hadir sebagai pelengkap penderita. Pada Annelies kita bertemu ironi yang lain: seorang perempuan indo yang diberi tanggung jawab turut mengelola usaha. Bersama ibunya, Nyai Ontosoroh, ia bekerja banting tulang demi menghidupi keluarga.

Namun, di tengah masyarakat kolonial perempuan adalah warga kelas dua. Perasaannya pun tak masuk hitungan. Maka, ia tak bisa berbuat apa-apa saat dipisahkan dari Minke, suaminya.  

Selain Minke dan Annelies, tokoh Nyai Ontosoroh juga sangat menonjol di novel Bumi Manusia–bahkan ketokohannya bisa jadi melebihi Minke. Penggemar bukunya rata-rata lebih kagum pada Nyai Ontosoroh ketimbang Minke.

Sebab, ia laksana perempuan super tapi bernasib tragis. Sang ayah menjualnya pada Belanda, karena ingin naik pangkat. Nyai Ontosoroh dijadikan istri tidak sah, dipercaya mengelola usaha suami.

Namun pada akhirnya tak berhak sepeser pun atas perusahaan itu karena ia cuma istri simpanan. Ia juga tak punya hak atas anak yang ia lahirkan.

Film

Nah, berbagai tragedi itu, plus rasa muak dan marah pada penguasa yang sewenang-wenang, cuma bisa kamu dapati bila membaca novelnya.

Membaca karya sastra, terutama yang terbit puluhan tahun silam memang berbeda dengan baca novel pop yang ringan. Butuh ketekunan dan jangan gampang menyerah.

Sungguh, bukan tanpa alasan nama Pramoedya Ananta Toer disebut berkali-kali sebagai calon penerima Nobel Sastra. Lewat membaca novel Bumi Manusia hingga tuntas kamu—yang tergolong generasi milenial akhir dan Gen Z–bisa membuktikan sendiri kedahsyatan prosanya. Dijamin!


Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun: 2005 (pertama terbit 1980)
Jumlah halaman:  535 halaman


Di Hari Puisi Nasional, Pilih Pujangga Legendaris atau Milenial?

Di Hari Puisi Nasional, Pilih Pujangga Legendaris atau Milenial?

Selamat Hari Puisi Nasional! Setiap 28 April, selalu diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Penetapan ini untuk mengenang sosok penyair legendaris Tanah Air, Chairil Anwar.

Penyair yang dikenal dengan julukannya Si Binatang Jalang, meninggal dunia pada 28 April 1949, di usia 26 tahun. Meski terbilang muda, namun karya-karyanya tetap membekas, hingga namanya tetap dikenang dan diabadikan lewat peringantan Hari Puisi Nasional.

Kalau sampai waktuku
Aku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Puisi di atas berjudul Aku, merupakan salah satu puisi tenar karya Chairil Anwar. Sepeninggal Chairil Anwar, Indonesia terus melahirkan penyair-penyair atau sastrawan atau pujangga yang tak diragukan lagi karya-karyanya.

Dari masa ke masa, penyair tersebut, terus saling mengisi, dari era 1970-an hingga generasi milenial saat ini. Siapa saja para penyair tersebut? Berikut daftarnya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Puisi di atas menjadi salah satu yang paling tersohor dari Sapardi Djoko Damono. Keromantisan puisi itu, dianggap menjadi bukti kelebihan Sapardi Djoko Damono dalam meramu kata-kata.

Sapardi Djoko Damono seorang penyair yang lahir pada 20 Maret 1940. Hingga kini, meski usianya telah menginjak 79 tahun, beliau masih terus berkarya dan merilis buku baru. yaitu Sepasang Sepatu Tua, yang rilis di 2019 ini.

Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang
membangunkan mimpi. Pacarkecilku berlari ke halaman,
menadah hujan dengan botol mainan, menyimpannya
di kulkas sepanjang hari, dan malamnya ia lihat di botol itu
gumpalan cahaya warna-warni.

Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya.
Ketika bangun ia berkata: “Tadi kau ke mana?
Aku mencarimu di rerimbun taman bunga.”
Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga
di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan
pelan-pelan membuka matanya.

Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya
bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.

Perpaduan antara narasi, humor dan ironi, selalu mengisi karya penyair yang satu ini. Pria yang lahir 11 Mei 1962 ini memang dikenal piawai mengolah kata sedemikian rupa.

Lewat karya-karyanya Joko Pinurbo telah memborong sejumlah penghargaan, salah satunya South East Asian (SEA) Write Award pada 2014 lalu.


Baca juga :


Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

Jika Grameds tahu film Ada Apa dengan Cinta 2, pastinya juga tahu dong, kalimat di atas adalah salah satu potongan puisi Rangga untuk Cinta. Kemudian puisi-puisi Rangga tersebut dibukukan dengan judul Tidak Ada New York Hari Ini.

Di balik puisi dan buku tersebut, ada Aan Mansyur yang menuliskannya. Aan Mansyur merupakan seorang penulis, penyair dengan berbagai karyanya yang sudah dikenal luas.

Sebelum akhirnya menulis buku Tidak Ada New York Hari Ini, penulis yang lahir pada 14 Januari 1982 ini sudah terlebih dulu memiliki beberapa karya, salah satunya buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja yang rilis 2015 lalu.

Menjadi Matamu
Aku sangat suka membayangkan menjadi matamu.
Mengetahui apa saja yang ingin dan tak ingin kau lihat.
Belajar bagaimana caramu memandang sesuatu.
Mengetahui warna apa saja yang kau suka.
Sesekali merasakan bagaimana caramu bersedih.
Bagaimana caramu agar tetap terlihat kuat.
Aku ingin memahami bagaimana rasanya menjadi matamu.
Lalu mengerti apa yang kau rasakan saat menatapku.

Pria yang lahir 21 November 1989 ini, dikenal dengan kata-katanya yang romantis. Buku-bukunya, seperti Dongeng Dongeng yang Tak Utuh, disukai oleh pembaca masa kini alias generasi milenial.

Tak heran, jika buku-buku pria yang baru saja melepas masa lajangnya ini, dicari banyak pembacanya. Karyanya dianggap dekat dengan kehidupan percintaan sehar-hari remaja masa kini.

Menyayangimu sangatlah mudah, aku bisa melakukannya berulang kali tanpa pernah bosan. Yang sulit itu cara menunjukkannya.

Kalimat di atas adalah potongan kisah yang diambil dari buku Garis Waktu karya Fiersa Besari atau yang akrab disapa Bung. Tak cuma satu buku, tapi kisah-kisah di buku lain seperti Konspirasi Alam Semesta atau di buku 11:11, selalu saja, kata-katanya berhasil bikin hati pembaca meleleh.

Saat ini, namanya termasuk kedalam daftar penulis yang diperhitungkan. Apalagi Fiersa Besari tak cuma menyentuh hati penggemar lewat buku, tapi juga lewat lagu-lagu yang diciptakan dan dibawakannya. Paket lengkap yang sukses bikin hati perempuan luluh lantak.


Dari kelima penyair di atas, yang mana favorit kalian? Kalau penasaran dengan karya-karya mereka yang lainnya, tak perlu repot, langsung saja pesan karena karya-karya mereka tersedia di Gramedia.com ataupun di Gramedia Digital.


Sumber header foto: unsplash.com

Rekomendasi Buku Parenting untuk Orangtua Milenial

Rekomendasi Buku Parenting untuk Orangtua Milenial

Apakah kamu seorang milenial yang sudah memiliki buah hati? Banyak pakar beda pendapat tentang siapa itu generasi milenial, tetapi secara umum mereka adalah yang lahir pada rentang tahun 1980-1995. Mereka sudah cukup umur untuk menikah dan memiliki anak. Cara parenting generasi milenial pasti berbeda dengan generasi sebelumnya.

Untuk mendukung para orangtua dari generasi milenial, kami mengumpulkan buku-buku parenting yang cocok untuk dibaca dan diterapkan sebagai cara parenting mereka. Berikut adalah rekomendasi buku parenting untuk generasi milenial.

Ketika Pintar Saja Tidak Cukup

Ketika
Ketika Pintar Saja Tidak Cukup karya Anthony Dio Martin

Tidak ada orangtua yang tidak mendoakan buah hatinya menjadi anak yang pintar. Segala macam hal dilakukan orangtua agar anak meraih prestasi, mendapatkan nilai tinggi, dan berbakat. Orangtua berusaha keras supaya anaknya menuntut ilmu di sekolah favorit. Orangtua juga menjamin anaknya mendapatkan apa yang diinginkannya asalkan mendukung si anak jadi pintar. Namun, pintar saja tidak cukup.

Ketika Pintar Saja Tidak Cukup karya Anthony Dio Martin menargetkan pembaca orangtua dan pendidik untuk generasi milenial. Hanya saja, buku ini cocok untuk orangtua lintas generasi termasuk para orangtua milenial yang baru memiliki buah hati. Buku ini mengulik bentuk pendekatan yang tidak hanya fokus pada kecerdasan akademik saja, tetapi juga kecerdasan emosional.

Gentle Birth

Gentle
Gentle Birth karya Yesie Aprilia

Bagi calon ibu baru, hamil dan melahirkan adalah karunia yang membahagiakan sekaligus menakutkan. Cara-cara dicari tahu agar proses kehamilan dan melahirkan berjalan lancar; dari bertanya pada orang yang lebih tua, membaca artikel pendukung, sampai berkonsultasi ke dokter dan bidan. Sayangnya, kebanyakan para calon ibu lebih memilih mengatasi rasa nyeri dalam proses melahirkan.

Gentle Birth karya Yesie Aprilia mengajak para calon orangtua untuk menikmati proses kehamilan dan melahirkan. Buku ini lengkap membahas persiapan proses persalinan dan cara mengatasi rasa nyeri serta tidak nyaman selama proses persalinan berlangsung. Jadi, orangtua bisa lebih aman, nyaman, dan bahagia saat menantikan kehadiran sang buah hati.

MoneySmart Parent: Panduan Praktis Perencanaan Keuangan Orangtua Baru

MoneySmart
MoneySmart Parent karya Nadia Mulya dan Prita Hapsari Ghozie

Waktunya untuk membahas finansial keluarga. Cepat atau lambat, setelah menikah pasangan suami-istri akan mendengar kabar bahagia bahwa sang istri hamil. Sebagai orangtua milenial, tidak asing rasanya untuk mengadakan acara untuk menyambut kehadiran si jabang bayi—dari acara baby shower bersama keluarga dan teman dekat sampai maternity photoshoot di studio foto dengan fotografer yang andal. Belum lagi saat melahirkan dan hari-hari setelahnya. Bagaimana mengatur keuangan itu semua?

Figur publik Nadia Mulya dan rekannya Prita Ghozie memberikan pencerahan baru untuk orangtua terutama mereka yang milenial melalui buku MoneySmart Parent: Panduan Praktis Perencanaan Keuangan Orangtua Baru. Buku ini terdiri atas tujuh bagian yang berkaitan dengan perencanaan keuangan, pemilihan prioritas, dan pengaruh gaya hidup terutama di media sosial. Tak lupa juga tentang perencanaan dana pendidikan anak yang tak kalah penting.

Membangun Karakter dan Melejitkan Potensi Anak

Membangun
Membangun Karakter dan Melejitkan Potensi Anak karya Marisa Humaira

Pendidikan karakter menjadi poin penting dalam mendidik anak. Medium yang paling utama adalah melalui agama. Mendidik anak berarti tidak hanya memberi tahu untuk patuh kepada orangtua tetapi juga kepada Tuhan yang Mahaesa.

Marisa Humaira menulis sebuah buku tentang pendidikan karakter yang berjudul Membangun Karakter dan Melejitkan Potensi Anak. Buku ini berusaha menjawab berbagai pertanyaan orangtua dalam mendidik anak terutama dalam pondasi agama Islam. Lengkapnya, buku ini membahas cara menerapkan pendidikan yang sudah dimulai sejak dari dalam kandungan hingga anak mencapai usia remaja.

Gentle Discipline

Gentle
Gentle Discipline karya Sarah Ockwell-Smith

Orangtua mungkin kerap menghukum anak-anaknya yang tidak menurut dengan kekerasan. Dari pukulan di tangan, jeweran, sampai cubitan yang membuat kulit si anak berbekas ungu. Cara-cara tersebut bukanlah hal yang benar dalam mendisiplinkan si anak. Semakin keras orangtua, semakin membangkang anak. Bagaimana cara yang tepat dalam mendidik sikap disiplin pada anak?

Sarah Ockwell-Smith, seorang spesialis metode gentle parenting, mengupasnya dalam buku Gentle Discipline. Dalam buku ini, ia akan membantu orangtua dalam memahami alasan anak-anak berperilaku tidak baik serta bagaimana orangtua merespons tanpa kekerasan dan penghakiman.

5 Buku Referensi Seputar Generasi Milenial dan Generasi Z

5 Buku Referensi Seputar Generasi Milenial dan Generasi Z

Sifat dan tingkah laku manusia terbentuk sesuai dengan lingkungan dan masa di mana mereka berada. Bentuk-bentuk tersebutlah yang kemudian dikelompokkan dengan istilah generasi.

Berdasarkan teori dari Graeme Codrington dan Sue Grant-Marshall, ada enam kelompok generasi manusia dalam 100 tahun terakhir. Yang paling tua adalah generasi tradisionalis (mereka yang lahir pada 1922-1845. Dua yang paling muda adalah generasi milenial (1981-1994) dan Generasi Z (1995-2010).

Pengelompokan tahun lahir dari setiap generasi masih jadi perdebatan di antara para pakar. Namun, dua generasi yang paling berpengaruh pada saat ini adalah generasi milenial dan generasi Z. Konon, generasi milenial adalah pionir perubahan; mereka adalah kelompok pertama dari digital natives. Sementara itu, generasi Z sudah kenal segala hal yang digital sejak lahir.

Penasaran lebih lanjut tentang generasi milenial dan generasi Z? Kami punya beberapa buku sebagai referensi kamu untuk mengenal lebih jauh tentang konsep generasi milenial dan generasi Z. Simak berikut yuk!

Generasi Eksplorasi

Generasi
Generasi Eksplorasi karya Tim IDN Times

Buku yang ditulis oleh tim IDN Times ini menjabarkan secara ringkas tentang siapa itu generasi milenial alias generasi yang gemar bereksplorasi. Bahasan awal buku ini menerangkan pengertian setiap kelompok generasi. Ada pula data tentang generasi di Indonesia: 13% baby boomer, 20% generasi X, dan 24% generasi milenial.

Generasi Eksplorasi juga memetakan tipe-tipe milenial dari data yang sudah mereka dapatkan. Pertanyaan seperti apa yang mereka sukai, musik apa yang mereka dengar, pengeluaran bulanan habis untuk apa, dan nilai apa yang mereka percaya menjadi bahasan yang menarik untuk disimak. Dan kesemuanya itu ada di dalam buku penuh warna ini.

Generasi Langgas: Millennials Indonesia

Generasi
Generasi Langgas: Millennials Indonesia karya Yoris Sebastian, Dilla Amran, dan Youth Lab

Salah satu sifat generasi milenial adalah bebas atau tidak terikat. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tujuannya adalah kemapanan, kebanyakan milenial lebih peduli pada kenyamanan dan kebebasan. Buku Generasi Langgas: Millennials Indonesia karya Yoris Sebastian, Dilla Amran, dan Youth Lab ini akan memberikan pandangan berbeda tentang sifat langgas para milenial.

Buku ini akan memberikan data dan fakta tentang generasi milenial terlebih dahulu. Seperti penyebutan generasi langgas sebagai nama lain dari generasi milenial yang pertama kali dilakukan saat Sumpah Pemuda pada 2015 oleh OMG Consulting. Buku ini juga menjelaskan tentang bedanya generasi milenial dengan generasi-generasi sebelumnya, baik positif dan negatifnya. Banyak hal menarik lainnya yang dikemukakan di buku Generasi Langgas: Millennials Indonesia ini.

Millenial Finance

Millenial
Millenial Finance karya Edwin Santoso

Katanya, generasi milenial itu susah mengelola keuangan, lho! Buat kamu yang milenial, apa merasakannya juga? Bagaimana kalau ada sebuah panduan untuk mengelola keuangan yang disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku generasi milenial? Jawabannya ada pada buku Millenial Finance karya Edwin Santoso.

Buku ini disebut-sebut memiliki cara yang paling tepat untuk meraih kesuksesan finansial para milenial. Bahasan yang diangkat seperti finansial yang perlu mendapat perhatian lebih dari generasi milenial serta cara menentukan prioritas finansial dari berbagai pilihan yang tersedia. Di bagian akhir Millenial Finance, penulis juga meramalkan ada tiga hal yang akan mengalami perubahan drastic akibat dominasi para milenial. Apa saja itu?

Ignite Millenial Leadership

Ignite
Ignite Millenial Leadership karya Andrew Senduk

Seperti yang disebutkan di atas, generasi milenial adalah pembawa perubahan. Salah satu perubahan yang terjadi adalah fenomena gerakan penyegaran tempat kerja yang menuntut perusahaan mengubah budayanya dan mendefinisikan makna kepemimpinan. Buku Ignite Millenial Leadership karya Andrew Senduk akan mengupas tuntas tentang kepemimpinan generasi milenial.

Di bab pendahuluan, buku ini membeberkan beberapa data tentang milenial. Salah satunya adalah mereka sekarang menjadi pemimpin dalam bidang teknologi dan industri-industri lain akan mengisi 75% tenaga kerja global pada 2025. Buku ini lalu menjelaskan enam langkah untuk maksimalkan potensi kepemimpinan para milenial. Dua di antaranya adalah “inspiration” dan “nurture”. Pelajari kesemuanya dalam buku Ignite Millenial Leadership.

Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja

Generasi
Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja karya David Stillman dan Jonah Stillman

Nah, sekarang waktunya untuk generasi Z! Salah satu buku yang menarik untuk dipelajari adalah Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja karya David Stillman dan Jonah Stillman. Buku ini membahas generasi anyar yang bermunculan di dunia kerja alias generasi Z.

Salah satu bahasan yang menarik adalah tentang FOMO. FOMO adalah istilah singkatan dari fear of missing out. Anehnya, FOMO adalah salah satu sifat buruk yang dimiliki oleh para generasi Z. Mereka tidak mau ketinggalan segala hal: termasuk informasi dan tren yang sedang berlangsung. Sekalinya ketinggalan, mereka akan merasa khawatir. Pelajari tentang FOMO di kalangan generasi Z di buku Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja.

Cara Sederhana Hilangkan Rasa Malas untuk Para Milenial

Cara Sederhana Hilangkan Rasa Malas untuk Para Milenial

Kaum rebahan. Begitulah kaum milenial sering disebut. Sebenarnya istilah rebahan berarti melepas lelah setelah bekerja. Biasanya hal itu berkenaan kegiatan menggunakan gadget, seperti mendengarkan musik, menonton film atau serial, dan bermain games.

Lebih jauh, rebahan malah jadi stereotipe negatif pada para milenial. Mereka dinilai pemalas dan tidak melakukan kegiatan yang produktif dengan rebahan itu.

Anggapan bahwa kaum milenial adalah pemalas sudah ada sejak 2013 dari hasil riset yang dikeluarkan oleh Time. Dalam laporan tersebut, penulis menyebutkan bahwa selain malas, para milenial itu sok, egois, dan tak sungguh-sungguh.

Khalifa Bisma Sanjaya mengumpulkan cara untuk hilangkan rasa malas bagi para milenial. Dalam buku Obat Malas Dosis Tinggi for Millenials Edition memberikan motivasi kepada pembaca, terutama para milenial, tentang apa-apa yang perlu diperhatikan ketika rasa malas hadir.


Baca juga:


Berikut beberapa cara sederhana hilangkan rasa malas untuk para milenial yang disarikan dari buku Obat Malas Dosis Tinggi for Millenials Edition.

1. Jadilah semakin rajin dengan atau tanpa listrik

Penulis mengawali buku ini dengan bahasan keberadaan listrik yang sudah jadi kebutuhan utama setiap orang—bukan hanya para milenial saja. Ia mengingatkan kembali bahwa kehadiran listrik bukan malah jadi bikin semakin malas dengan menghabiskan waktu dengan bermain games atau berselancar di media sosial.

Apalagi ketika mati listrik yang tidak bisa diprediksi kejadiannya. Dengan mati listrik, kita bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat. Salah satunya membaca buku atau membersihkan dan merapikan kamar tidur.

2. Antisipasi tiga penghambat yang datang

Ada tiga hal yang menghambat seseorang dalam meraih sukses: pertimbangan, rasa takut, dan rintangan. Mempertimbangkan sesuatu mungkin bagus dalam proses meraih keputusan. Namun, jika pertimbangannya begitu banyak, kita tidak akan maju ke proses berikutnya.

Takut memulai, takut bertanya, takut gagal—juga menjadi penghambat meraih apa yang kita inginkan. Rintangan yang datang pun jadi salah satu faktornya. Bila dibiarkan hadir, tiga penghambat itu akan menghasilkan rasa malas. Dan itulah yang harus dihindari.

3. Buatlah daftar kebutuhan

Penulis mengatakan bahwa kebutuhan mampu menyulap manusia yang awalnya malas menjadi rajin. Ilustrasi simpelnya adalah ketika seseorang butuh beras atau makanan untuk dimakan, orang tersebut pasti butuh uang untuk mendapatkan makanan.

Dengan memiliki kebutuhan, seseorang dapat melakukan sesuatu dengan rajin. Salah satunya dengan bekerja. Jika ia begitu sadar bahwa bekerja akan menghasilkan uang dan mendapatkan daftar kebutuhan, ia pasti akan meninggalkan rasa malas yang selalu menghampiri.


Ada puluhan cerita lain yang dijabarkan penulis tentang menghilangkan rasa malas dalam buku Obat Malas Dosis Tinggi for Millenials Edition. Selain langkah-langkah sederhana, buku ini juga menyelipkan kata-kata mutiara dan kutipan seputar agama Islam.

Obat
Obat Malas Dosis Tinggi for Millenials Edition karya Khalifa Bisma Sanjaya

Dapatkan buku Obat Malas Dosis Tinggi for Millenials Edition karya Khalifa Bisma Sanjaya di Gramedia.com!


Baca juga:


Sumber gambar header: pexels.com

Bukan Sekadar Idaman, Berikut Tips untuk Milenial yang Mau Beli Rumah

Bukan Sekadar Idaman, Berikut Tips untuk Milenial yang Mau Beli Rumah

Nggak jarang nih kita nemuin kabar yang mengatakan generasi milenial sulit punya rumah sendiri, bahkan pesimis untuk bisa membelinya. Semakin tinggi harga properti tiap tahunnya, ditambah penghasilan yang serba ngepas, membuat mereka berpikir bahwa punya hunian sendiri sebagai misi yang sulit direalisasikan.

Ada banyak faktor yang membuat milenial kesulitan untuk memiliki rumah sendiri. Tapi tidak ada hal yang tidak mungkin, asalkan kita bisa komitmen dan bertekad untuk mewujudkannya. Yang terpenting kamu punya rencana dan pemikiran yang realistis untuk memenuhi pembayaran rumah.

Karena rumah adalah kebutuhan primer, ada baiknya kamu segera mengalokasikan penghasilan untuk hal ini ya! Coba deh ikuti tips yang sudah Admin rangkum ini sebagai awal modal kamu menyiapkan rumah impian.

Tips untuk Milenial yang Ingin Memiliki Rumah Idaman

1. Pastikan Keuangan Stabil dan Fokus Menabung DP

Godaan promo ngopi atau minum-minum cantik di sore hari masih sering dialami para milenial nih. Ada juga yang memang masih harus memenuhi kebutuhan orang tua atau saudara-saudaranya. Nah selama penghasilan dan pengeluaranmu sejalan, serta tidak ada utang yang memberatkan, kondisi keuangan yang stabil wajib kamu pegang dahulu nih.

tips
Sumber foto: blog.roome.id

Coba kurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, dan alokasikan untuk menabung pembayaran DP atau uang muka. Lakukan perencanaan keuangan dan berkomitmen untuk menyisihkan uang setelah gajian untuk tabungan DP rumah.

2. Menabung Lewat Deposito atau Investasi Lainnya

Agar uang tabunganmu aman, kamu bisa memilih langsung menabung dalam rekening deposito. Tabungan emas juga bisa jadi pilihan sehingga kamu lebih disiplin untuk menabung.

tips
Sumber foto: 99.co

Pilih investasi juga bisa kamu lakukan untuk memupuk tabungan DP rumah. Sudah ada banyak platform investasi yang memudahkan kamu, seperti reksadana sampai fintech peer to peer landing. Asalkan kamu paham dengan saham atau reksadana, nantinya tabunganmu akan mendapatkan timbal balik yang lumayan nilainya.

3. Rajin Riset dan Survei Rumah yang Tepat

Kamu mau rumah yang seperti apa? Mau di kota atau di pinggiran kota? Dekat dengan akses tol dan transportasi umum? Mau yang dikelilingi fasilitas kesehatan, sekolah, dan entertainment juga?

Pertimbangan ini semua akan berpengaruh ke biaya yang harus kamu keluarkan nanti. Jadi, segera cari rumah idaman dan sesuaikan dengan keadaan finansial kamu. Pastikan nantinya skema cicilian sesuai kemampuan dan penghasilan kamu juga ya.

tips
Sumber foto: quickenloans.com

Perhatikan juga tentang rekam jejak developer atau si penjual rumah. Cari informasi sebanyak-banyaknya terkait tahapan pembelian lewat developer, terkait bangunan rumah, lingkungan sekitar, dan hal lainnya untuk meminimalisir risiko buruk di masa depan.

4. Banyak Baca Mengenai Ilmu Finansial

Semakin banyak ilmu yang kamu petik, semakin baik juga pengetahuanmu nanti terkait menabung demi mendapatkan hal yang kamu impikan. Buku juga termasuk investasi berharga lho, karena berisikan ilmu-ilmu yang bisa kamu terapkan dalam kehidupanmu. Contohnya seperti cara menabung, berbisnis, berinvestasi yang baik dengan minimal kerugian, dan lain-lain.

Nah, buku-buku berikut ini bisa jadi temanmu dalam bersemangat mengumpulkan pundi-pundi untuk mendapatkan rumah impian!

Rekomendasi Buku Finansial

Make it Happen, Now!

makeBeli dan Pelajari Sekarang!

Saatnya kamu merencanakan keuangan untuk mewujudkan impian punya rumah! Buku ini merangkum tahap-tahap tersebut dengan cara terbaru, bahasa yang mudah dimengerti, dan penuh ilustrasi yang menarik. Ada juga cerita pengalaman inspiratif dan pembahasan terkait keuangan digital, agar keuanganmu tetap aman sentosa, dan impian juga tercapai.

Seni Mengatur Keuangan: Tips Cerdas Melakukan Perencanaan Keuangan

seniBeli dan Pelajari Sekarang!

Baru mulai kerja, baru dapat penghasilan sendiri, bukan berarti kamu belum bisa mulai untuk menabung rumah impian. Buku ini dipenuhi tips dan trik perencanaan keuangan yang mudah dilakukan untuk pemula, baik dari mengetahui kesehatan keuangan, cara menyiasatinya, serta tips investasi maupun tentang asuransi.

Kenapa Sih Kita Harus Nabung?: 50 Cara Menabung Yang Benar

kenapaBeli dan Pelajari Sekarang!

Ya harus nabung, kalau nggak ditabung, nanti punya rumahnya kapan dong? 🤭 Ada banyak cara menyenangkan, seru, dan kreatif untuk menabung, tapi tetap dengan jalan yang benar. Dengan membaca buku, kebiasaan menabung akan melebur jadi budaya hidup kamu sehari-hari. No more jajan-jajan nggak jelas!

Money The Millenial Ways

moneyBeli dan Pelajari Sekarang!

Mau cari tambahan penghasilan biar tabunganmu cepat terkumpul dan rumah keinginanmu tercapai? Buku ini akan membahas tentang pengelolaan keuangan dan cara mendapatkan penghasilan melalui ide bisnis yang millenial ways banget!

Money Quest

Membahas dari semua pengalaman penulis, buku ini menjawab pertanyaan sesuai pertanyaan sehari-hari, tentang cara bagaimana bisa jalan-jalan setiap tahun, menabung dana pensiun, dana pendidikan, bahkan pertanyaan seputar harus membeli rumah di tanah atau apartemen.

moneyBeli dan Pelajari Sekarang!

Sudah ditetapkan bukan menabung untuk membeli rumah? Nah, dalam buku ini kamu akan diajarkan metode praktis dan sangat mudah untuk mengelola dan mengatur uangmu, hingga bagaimana caranya menabung, dan mencapai tujuanmu!

The Financial Wellbeing Book

theBeli dan Pelajari Sekarang!

Ditulis oleh penasihat keuangan berpengalaman, panduan dalam buku ini cocok untuk keuangan harian maupun jangka panjang yang disesuaikan dengan tujuan dan motivasi kamu. Jadi kamu akan menemukan solusi serta panduan praktis untuk merencanakan tabungan rumah impian!

Millennial Investing

millenialBeli dan Pelajari Sekarang!

Kalau kamu mau coba investasi untuk menabung DP, kamu harap paham dulu seluk-beluknya sebelum terjun di pasar modal. Nah, dalam buku ini kamu akan dijelaskan cara mencari emiten idaman, yang bisa membuat kita meraih keuntungan dengan risiko seminimal mungkin!

#MillennialInvestors: Investasi Ala Milenial

Kalau kamu sudah bertekad ingin membeli rumah, harus paham nih mana yang kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Saatnya kamu pikirkan bekal hidup di masa depan, rumah salah satunya.

millenialBeli dan Pelajari Sekarang!

Melek investasi bisa membantu kamu untuk memupuk tabungan. Buku ini berisi sharing pengalaman penulis yang sudah berinvestasi sejak usia muda, lengkap dengan langkah-langkah memulai investasi sampai sukses memiliki banyak investasi. Langkah-langkah mereka layak untuk dicoba biar kamu juga punya tabungan masa depan!

Nah, biar kamu bisa langsung baca semua buku-buku di atas, ada diskon menarik, special price, dan penawaran spesial lainnya yang bisa kamu dapatkan di Gramedia.com, lho! Coba tengok di bawah ini ya.

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!

Grameds, Admin doakan semoga prosesnya lancar ya! Nggak ada yang mustahil untuk milenial bisa tinggal di rumah sendiri. 😉🏠


Sumber foto header: minhacasaminhacara.com.br

Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori Memicu Milenial Menengok Sejarah

Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori Memicu Milenial Menengok Sejarah

Laut Bercerita novel karya Leila S. Chudori yang diluncurkan empat tahun silam kini telah mencapai cetakan ke-19. Mengambil latar belakang sejarah Indonesia tahun 1998, novel ini agaknya tidak kehilangan daya pikat.

Leila bersyukur bahwa karyanya bisa begitu diterima. Dan yang paling membuat ia takjub, pembaca Laut Bercerita setiap tahun semakin luas dari segi usia. Dulu, seingat Leila, saat novelnya baru diluncurkan pada 2017, pembacanya kebanyakan berumur 40 tahun ke atas. Kalangan old school yang memang mengalami transisi Indonesia ke era Reformasi. Seiring tahun, usia pembaca makin muda. Sekarang generasi Z yang lahirnya tahun 2000-an ikut memburu Laut Bercerita.

“Dampak yang paling saya suka, novel ini memantik generasi muda untuk riset. Mencari tahu benar tidak sejarah yang jadi latar novel ini pernah kejadian di Indonesia. Siapa orang-orang asli yang jadi inspirasi karya fiksi saya,” aku Leila penuh semangat di acara Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Laut Bercerita yang diselenggarakan bersama Penerbit KPG pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Dalam acara ini hadir juga narasumber, sutradara Pritagita Arianegara, produser sekaligus sutradara Gita Fara, dan Reza Rahadian pemeran Biru Laut dalam film pendek Laut Bercerita.

Nobar Bersama Reza Rahadian

Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia mengadakan acara nonton bareng dan diskusi secara daring film pendek Laut Bercerita garapan sutradara Pritagita Arianegara dalam rangka mengiringi cetakan ulang ke-19.  Selain itu, kegiatan yang didukung oleh Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Cineria Film ini merupakan bagian dari kampanye Kelompok Penerbit dan Retail Gramedia dengan tagar #SahabatTanpaBatas.

Meski telah berulangkali diputar, film yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai book teaser atau pendamping peluncuran buku Laut Bercerita saja ini tak pernah kehilangan peminat, bahkan boleh jadi sekarang makin bertambah.

Hal ini terlihat saat pendaftaran Nobar dan Diskusi Laut Bercerita dibuka, hanya dalam 15 menit, 1200 tiket yang tersedia langsung habis terpesan. Dari jumlah tersebut lebih dari 960 orang hadir sebagai peserta zoom menonton dan mengikuti diskusi yang mengiringi pemutaran tersebut.

laut
Sumber foto: twitter.com

Menanggapi antusiasme luar biasa ini, Reza Rahadian yang hadir dalam diskusi malam itu berpendapat,

“Ini membuktikan usia sebuah karya yang baik pasti panjang karena bisa selalu menjadi medium komunikasi dari peristiwa apa pun dan membuka jendela kita semua.”

Pemeran tokoh Biru Laut Wibisono itu berharap buku dan film pendek Laut Bercerita mencelikkan mata banyak generasi muda bahwa kebebasan yang kita nikmati hari ini tidak diterima begitu saja, taken for granted, melainkan hasil perjuangan berdarah-darah dan penuh cucur air mata.

“Inilah kekuatan sebuah cerita yang kemudian bisa sampai dan jadi perhatian sendiri walaupun dalam skema yang terbatas.”

Misi HAM

Laut Bercerita memang tergolong novel yang kental sekali nuansa sejarahnya. Tapi bukan cuma di Laut Bercerita, Leila S. Chudori juga menyuarakan masa-masa kelam yang hilang dari buku sejarah kita lewat novel sebelumnya, Pulang.

Berbekal riset mendalam dan wawancara masif dengan para korban politik Indonesia, pembaca sering mengira bahwa Leila yang punya latar belakang jurnalis memang punya misi kemanusiaan khusus lewat karya-karyanya.

Setiap ditanya begitu, Leila S. Chudori tak menampik. “Ya, kalau mau dikatakan ada misi, kemungkinan ada misi hak asasi manusia (HAM) itu jelas sekali,” ujarnya.

Namun begitu, Leila menegaskan dalam menulis cerita ia tak pernah berikhtiar ingin mendapatkan respons tertentu dari pembaca. “Ketika menulis, kita enggak memperlakukan karya ini sebagai alat.” Sebagai penulis, Leila murni ingin berbagi cerita tentang sosok yang ia anggap menarik. Bonusnya memang, pada diri setiap tokoh yang memikat itu melekat peristiwa-peristiwa bersejarah.

Pada Biru Laut, misalnya, mengalir sejarah kelam Indonesia dengan segala lukanya. Luka yang masih menganga, dan meninggalkan duka pada keluarga dan sanak-saudara, serta handai-taulan yang ditinggalkan dalam ketidakpastian.

“Inspirasi saya waktu itu Nezar Patria, rekan kerja di TEMPO,” tutur Leila. Dalam edisi khusus tentang Soeharto di Majalah TEMPO Februari 2008, Nezar menulis kesaksiannya dalam artikel berjudul Di Kuil Penyiksaan Orde Baru (sekarang artikel ini bisa dibaca melalui Seri Buku TEMPO: Soeharto, Setelah Sang Jenderal Besar Pergi, terbitan KPG & Tempo Publishing, 2018).

Dalam artikel yang menurut Leila ditulis dengan sangat bagus dan detil itu, Nezar menceritakan masa ketika dia diculik dan matanya ditutup. Setiap mendengar pistol dikokang, ia pikir ia pasti mati. Dari situ, Leila pun terpikir suatu saat harus membuat cerita tentang “orang di tubir kematian.” Tentu saja, Biru Laut bukan cerminan langsung Nezar Patria. Ada lebih dari satu narasumber yang karakter dan kisahnya diracik Leila menjadi satu pribadi baru bernama Biru Laut Wibisono.

Film Pendek dari Novel

Pada 2017, film ini diputar pertama kali di auditorium Institut Français Indonesia, Jakarta untuk mengiringi peluncuran novel Laut Bercerita. Rasanya inilah satu-satunya buku yang penerbitannya dirayakan dengan pemutaran film pendek berdurasi 30 menit. Empat tahun bergulir, film ini ternyata masih berdaya pikat.

“Saya menangis dari awal film hingga akhir,” komentar Nora Jasmine dari Banyuwangi, Jawa Timur, salah seorang peserta yang menyaksikan penayangan film pendek ini di Zoom pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Sejak awal film, Biru Laut membawa audiens merasakan mirisnya penyiksaan dan suramnya penyekapan yang ia alami di dalam penjara. Penjara itu terletak di bawah tanah, jika melongok ke atas para penghuninya bisa melihat teralis besi mengurung mereka seperti kandang.

Kiri–kanan terhalang tembok, jadi para tahanan tak bisa saling menengok fisik kawan di jeruji sebelah. Mereka hanya bisa berkabar dengan mengabsen, berteriak, dan menghitung hari dengan mengguratkan darah ke tembok membentuk turus.

Ketika film ini diputar perdana dengan mengundang para aktivis 1998 dan keluarga korban penghilangan paksa, mereka pun bereaksi sama seperti Nora Jasmine. “Film ini membawa mereka kembali pada ingatan penyiksaan di penjara pada masa itu.” Sementara bagi keluarga yang masih menunggu kabar 13 aktivis ’98 yang hilang, mereka tak kuasa mengingat momen kebersamaan dengan para korban semasa ada.

Di pengujung film, Aksi Kamisan para keluarga korban penghilangan paksa yang terus menunggu keadilan dari pemerintah di depan Istana Negara, mendapatkan sorotan. Gita Fara, produser dan sutradara film pendek Laut Bercerita, saat sesi diskusi pada 18 Agustus lalu, bersaksi adegan tersebut adalah bagian paling membangkitkan kesadaran baginya selama proses syuting.

“Semangat para keluarga di Aksi Kamisan itu menjadi wake-up call saya bahwa cerita dan orang-orang ini nyata. Mereka bukan cuma nama dan teks yang ada di novel Mbak Leila.”

Momentum ini juga yang diakui Gita menjadi pendorong utama tim produksi film pendek Laut Bercerita selalu semangat membawa karya ini diputar ke mana pun undangan datang. Dan bukan mustahil, ke depan akan dibuat film panjangnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Wisnu Darmawan, produser sekaligus penggagas book teaser ini.

“Ternyata, dari tindakan kecil (membuat film pendek untuk mengawal peluncuran buku), bisa berdampak sebesar sekarang.”

Setiap pemutaran, film ini membuka jendela baru bagi penontonnya. Tanggapan dari para mantan aktivis Reformasi dan keluarga korban, bagi Pritagita Arianegara, sutradara film pendek Laut Bercerita juga membawa pelajaran baru bagi pembuat filmnya.

Masih Ada Kesempatan untuk Ikutan Nobar!

Melihat antusiasme ini, penyelenggara memutuskan untuk membuka Nobar dan Diskusi Laut Bercerita batch #2. Dalam pemutaran kedua, yang akan diselenggarakan Selasa, 31 Agustus 2021, peminat pun tak kalah heboh.

Dalam waktu 5 menit, ludeslah tiket untuk 1.000 peserta nobar dan diskusi batch #2 yang dibuka pada Jumat, 20 Agustus pukul 15.00 WIB. Di Twitter, berburu tiket nobar Laut Bercerita ini sampai menjadi trending tropic. Waktu tiket nobar pertama dibuka juga begitu.

Tapi, masih ada kesempatan untuk kamu mendapatkan tiketnya pada nobar dan diskusi pada batch #2!

Tertarik menyaksikan film pendek dan terlibat dalam diskusi novel Laut Bercerita bersama Leila S. Chudori, Pritagita Arianegara, Gita Fara, dan Dian Sastrowardoyo?

Dapatkan tiket gratis Nobar dan Diskusi Laut Bercerita dengan membeli satu novel Laut Bercerita bertandatangan Leila S. Chudori hanya di Gramedia.com pada Senin, 23 Agustus 2021 mulai pukul 12.00 WIB.

lautBeli Sekarang dan Dapatkan Tiket Nobar!

Segera beli karena persediaan tiket sangat terbatas! Jangan lupa masukan kode voucher “NOBARLB” saat checkout untuk berkesempatan mendapatkan tiket nobar.

Kamu juga bisa koleksi karya lainnya dari Leila S. Chudori. Kamu nggak perlu khawatir, sebagai #SahabatTanpaBatas, Admin kasih diskon spesial untuk kamu koleksi semuanya!

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!

Sekarang, kamu juga bisa pesan lewat chat WhatsApp lho! Ini adalah layanan Pesan Antar terbaru dari Gramedia.com. Kamu juga bisa pilih menggunakan pengiriman instant (khusus Jabodetabek), dan pesananmu akan dikirim lebih cepat! Untuk info lebih lanjut, klik gambar di bawah ini ya.

PesanKlik untuk Info Lebih Lanjut dan Pesan Via Whatsapp!


Penulis: Silviana Dharma & MariaCh – Penerbit KPG

Ilustrator: Della Yulia & Pinahayu Parvati

Sumber foto header: Dok. KPG