Novel Cantik Itu Luka Rayakan 20 Tahun dengan Sampul Terbaru

Novel Cantik Itu Luka Rayakan 20 Tahun dengan Sampul Terbaru

Novel karya Eka Kurniawan yang berjudul Cantik Itu Luka merayakan hari jadinya yang ke-20 tahun sejak tanggal rilisnya dengan mengeluarkan sampul terbaru. Edisi kali ini spesial, lho!

Warna sampulnya diganti menjadi perpaduan warna hijau dan biru yang cantik serta menggunakan hard cover. Uniknya lagi, edisi kali ini akan dilengkapi dengan ujung halaman yang berwarna hijau (sprayed edges).

Eka menulis novel bergenre fiksi sejarah ini dengan menyelipkan realisme dan surealisme di dalamnya. Ia mengambil unsur kepercayaan lokal, silogisme filsafat, hingga realitas sejarah di dalam novel ini. Kita akan diajak melihat sejarah kolonialisme di Indonesia bersama Dewi Ayu, seseorang yang sangat cantik dan terkenal dari Halimunda. Ia memiliki tiga anak perempuan yang cantik dan satu anak perempuan yang buruk rupa. Kecantikan Dewi Ayu selama ini telah mengutuk dirinya bersama anak dan cucunya, beserta pekerjaan yang mau tak mau harus ia lakukan itu.

Perjalanan Novel Cantik Itu Luka

Novel legendaris ini ternyata sempat ditolak oleh empat penerbit. Bahkan, tulisan Eka dianggap kurang memiliki nilai sastra dan tak dapat disandingkan dengan novel-novel karya sastrawan populer, yang bahkan Eka sendiri belum pernah membaca tulisan mereka. Tak banyak karya sastra Indonesia yang ia baca. Selama ini, ia hanya mengikuti sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Lainnya, ia hanya membaca karya Fredy S., Asmaraman Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, dan Enny Arrow.

Pria kelahiran tahun 1975 ini juga banyak mengambil inspirasi dari penulis dunia. Salah satunya karakter Sodancho yang terinspirasi dari pahlawan nasional sekaligus pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Penulisan karakter Sodancho ini terinspirasi dari gaya penulis dunia Gabriel Garcia Marquez, dalam menulis karakter Jenderal Simon Bolivar dalam bukunya yang berjudul The General in His Labyrinth.

Penghargaan Novel Cantik Itu Luka

Novel yang diterbitkan pertama kali di tahun 2002 ini merupakan novel pertama dari sang penulis, Eka Kurniawan. Novel ini masuk dalam daftar panjang Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2003. Kemudian pada tahun 2006, novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hingga kini, novel Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa dengan judul dalam bahasa Inggrisnya, Beauty Is a Wound.

Sudah banyak penghargaan yang didapatkan oleh novel ini bahkan sampai ke internasional. Penghargaan-penghargaan yang berhasil didapatkan novel ini antara lain adalah World Readers Awards di tahun 2016 dan Prince Claus Awards di tahun 2018. Ditambah lagi, novel ini juga masuk ke dalam daftar 100 buku terkemuka versi The New York Time di tahun 2015.

Eka
Eka Kurniawan Menerima Penghargaan Prince Claus Awards

Sinopsis Novel Cantik Itu Luka

Cantik Itu Luka berkisah tentang seorang wanita bernama Dewi Ayu, perempuan keturunan Belanda yang terkenal akan kecantikannya di zaman kolonial. Jika kamu berpikir kecantikannya akan membawa keberuntungan, maka kamu salah. Kecantikan Dewi Ayu justru membawa kutukan baginya. Ia harus menjual diri untuk tentara Belanda dan Jepang. Karena wajahnya yang luar biasa cantik, ia menjadi PSK terkenal di Halimunda.

Di masa kecilnya, Dewi Ayu diasuh oleh kakek dan neneknya. Ia tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya karena mereka diusir akibat melakukan kawin sedarah. Di usia remajanya, Dewi Ayu menjadi gadis tahanan yang dipindahkan ke sebuah rumah pelacuran milik Mama Kalong. Di sana, Dewi Ayu dipaksa untuk melayani para tentara Jepang.

Dewi Ayu menjadi pemuas berkelas dan sangat terkenal di Halimunda. Bahkan, hampir semua lelaki di sana sudah pernah bercinta dengannya. Dewi Ayu kemudian memiliki tiga orang anak perempuan, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Ketiganya sama cantiknya dengan Dewi Ayu.

“Apakah aku perlu memberi rekomendasi ke rumah sakit jiwa?

“Tak perlu, ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya.”

Kisah hidup anak mereka juga menyedihkan. Alamanda mencintai anak seorang komunis bernama Kliwon. Mereka berdua saling mencintai, tetapi Kliwon harus melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Hubungan mereka tetap berjalan dengan baik karena rutin berkirim surat. Namun, suatu hari Alamanda terpaksa menikahi seorang jenderal di pangkalan militer Halimunda yang bernama Shodanco. Alamanda menikahi Shodanco tanpa ada rasa cinta dan selalu berusaha kabur.

BukuBaca Sekarang di Sini!

Kliwon kembali ke Halimunda dan menemukan Alamanda telah menikah dan hamil. Ia sakit hati dan kecewa hingga jiwanya terguncang dan ia hidup bergelandang di jalanan. Namun, ia bangkit dari keterpurukan itu dan memimpin Serikat Nelayan dan menjadi pimpinan sebuah partai Komunis. Kliwon pun kemudian menikahi Adinda, adik Alamanda, yang kerap menemaninya selama memajukan partai Komunis tersebut. Di sisi lain, Maya Dewi akhirnya menikah dengan seorang preman bernama Maman Gendeng.

Di tengah anak-anaknya memberikan cucu yang tak kalah berparas menawan, Dewi Ayu juga melahirkan anak keempatnya. Namun, kali ini ia berdoa agar anaknya buruk rupa. Tuhan pun mengabulkan doanya, anaknya yang buruk rupa itu ia namai Si Cantik.

Kutukan Dewi Ayu masih berlanjut ke anak dan cucunya bahkan hingga ia meninggal. Dewi Ayu bahkan hampir tak pernah merasakan bahagia selama hidupnya. Ditambah lagi, dengan lika-liku hubungan anak, menantu, dan cucunya yang problematis, membuatnya bangkit dari kematian.

Novel Cantik Itu Luka mendapat antusiasme yang cukup baik dari para pecinta buku. Komunitas buku di media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Goodreads, memberikan respon yang positif terhadap novel ini. Penulisan setiap tokohnya cukup detail dan pas pada porsinya. Penggambaran suasananya juga mampu membuat para pembaca seolah ikut masuk dalam kisah Dewi Ayu.

Karya-Karya Lain dari Eka Kurniawan

Nah, sekarang mari berkenalan dengan karya lain dari Eka Kurniawan yang tak kalah populernya. Karya-karyanya membawanya menjadi penulis Indonesia pertama yang masuk nominasi di Man Booker International Prize di tahun 2016.

Eka Kurniawan menerbitkan karya pertamanya yang merupakan skripsinya sendiri dengan judul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis pada tahun 1999. Lalu, karya fiksi pertamanya merupakan kumpulan cerita pendek yang diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul Corat-Coret di Toilet.

BukuBaca Sekarang di sini!

Buku Corat-Coret di Toilet juga bisa kamu dapatkan dalam versi e-book di sini >>> Corat-Coret di Toilet

Nah, barulah pada tahun 2002, ia mendebutkan novel pertamanya, yakni Cantik Itu Luka. Kemudian, disusul karya lainnya yang berjudul Lelaki Harimau (2004), Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya (2005), Cinta Tak Ada Mati (2005), Kumpulan Budak Setan (2010), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015), O (2016), dan Sumur (2021).

AuthorKlik untuk Temukan Karya Eka Kurniawan Lainnya!

Karya-karya Eka juga telah banyak diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Tak hanya itu, salah satu bukunya yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas juga telah diangkat ke layar lebar. Film yang tayang pada tahun 2021 ini sukses mendapatkan perhatian dari para pecinta film sekaligus pengikut karya Eka Kurniawan.

Baca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dalam versi e-book di sini >>> Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas


Baca juga: Novel Populer Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Kini Diangkat Menjadi Film


Nah, di tahun ke 20 sejak penerbitan pertamanya ini, novel Cantik Itu Luka hadir dengan sampul hard cover dihiasi warna hijau-biru dan warna di ujung halaman atau sprayed edges berwarna hijau. Pastinya bakal ada pembatas buku juga, lho!

Eits, yang paling spesial kali ini adalah bonus buat kamu yang memesan dengan pre-order di tanggal 15-29 Juni 2022. Kamu akan mendapatkan tanda tangan penulisnya dan cuplikan manuskrip ‘O Anjing’ yang merupakan cikal bakal Cantik Itu Luka. Jangan sampai terlewat, bonus menarik dan melimpah ini hanya bisa kamu dapatkan dengan memesan pre-order di bawah ini

POSegera Pesan di Sini!

Jangan lewatkan promo menarik lainnya dari Gramedia.com. Kamu bisa mendapatkan diskon dan bonus untuk produk-produk pilihan, lho. Buruan cek sekarang dengan klik gambar di bawah ini.

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Sumber foto header: Gramedia.com

Penulis: Almanda Jazroh Hardiyanti

Hi Bye My Blue, Belajar Berdamai dengan Luka

Hi Bye My Blue, Belajar Berdamai dengan Luka

Grameds, kamu pasti pernah merasakan kesulitan dalam menjalani kehidupan, bukan? Terdapat satu momen yang terasa amat sulit untuk dilakukan hingga meneteskan air mata. Namun, kehidupan akan terus berputar. Akan ada pelangi setelah hujan, luka yang akan sembuh seiring berjalannya waktu, meski menimbulkan jejak.

Perjalanan yang sulit itu akan mempengaruhi kesehatan mental. Sudah banyak dibahas di sosial media akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Mungkin sebagian masyarakat masih tabu akan hal ini. Serta menganggap kesehatan mental menjadi titik lemah kaum Gen Z.

Namun, penting bagi kita mengetahui kesehatan mental. Dengan begitu, kita akan bisa menjalani hari-hari dengan senyuman. Meskipun tidak selalu hari-hari akan bahagia, akan tetapi setidaknya kamu akan lebih mengenal diri.

Memiliki luka dan ketidaksehatan mental bukanlah suatu kekurangan. Itu artinya kamu diberi kesempatan untuk mengenal diri lebih dalam. Tak apa, manusia memang perlu merasakan pahitnya kehidupan. Dengan begitu, akan ada pengalaman yang berharga tentang perjuangan melewati kesulitan hidup.

Gramin mau rekomendasikan buku yang membahas mengenai perjalanan panjang yang penuh kejatuhan dan kebangkitan. Buku ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang terkadang kejam dan manusia yang tidak selalu bisa kita percayai, kita selalu memiliki alasan untuk bangkit kembali. Ini dia buku Hi Bye My Blue.

Kita simak ulasannya, yuk!

Mental Health dan Luka, Kisah di Setiap Halaman Hi Bye My Blue

hiBaca di Sini!

Menurut sang penulis, Hana Hanifah, mengatakan ini adalah buku paling lama yang pernah ia tulis. Buku ini tidak hanya sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan curahan hati Hana Hanifah yang akhirnya menemukan keberanian untuk menghadapi dirinya sendiri. Bukan hal yang mudah untuk menghadapi luka, dan buku ini menjadi cermin bagi banyak dari kita yang mungkin telah lama mengabaikan kehadiran luka itu sendiri.

Buku ini  berbicara tentang bagaimana luka itu bisa hadir dalam berbagai wujud: sebagai pedihnya kita ditinggalkan oleh manusia, sebagai kecewanya kita dikhianati oleh dunia, sebagai sakitnya kita berjuang sendiri, dan sebagai bencinya kita pada diri sendiri. Adakah Grameds yang merasakan hal serupa seperti penulis? Jika iya, maka buku ini sangat cocok untuk kamu baca.

Semua luka ini diungkapkan dengan kata-kata yang sederhana namun mendalam, membuat kita merasa seperti kita berbicara dengan seorang sahabat yang memahami. Buku ini akan menjadi temanmu dalam melewati fase menyembuhkan luka.

Seni Berdamai dengan Diri Sendiri

Dalam dunia yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental, buku ini memberikan kontribusi berharga dengan membuka pintu menuju pemahaman diri yang lebih dalam dan memberikan harapan untuk kesembuhan.

Dengan latar belakang yang kaya akan konteks sosial dan budaya yang relevan, buku ini bukan hanya sebuah kisah pribadi, tetapi juga cermin bagi banyak orang yang mungkin berjuang dengan luka-luka yang sama. Ini adalah buku yang mengajak kita untuk merenung, berdamai dengan diri sendiri, dan merangkul perjalanan menuju kesembuhan mental.

Berdamai dengan luka adalah seperti proses seni yang membutuhkan waktu yang panjang. Luka itu adalah lukisan perasaan pedih saat ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, kekecewaan terhadap dunia, rasa sakit saat berjuang sendiri, dan kebencian pada diri sendiri.

Melalui buku ini, Hana Hanifah ingin mengajakmu untuk menjalani proses seni ini bersama-sama, menghargai dan merangkul setiap goresan dalam kanvas kehidupan kita. Kita adalah seniman dalam proses menciptakan kedamaian dalam diri sendiri.

Buku ini akan mengajak kamu memainkan emosi yang menggugah hati ini. Mari berbicara, berbagi, dan merangkul perjalanan menuju kesembuhan mental bersama-sama. Hi Bye My Blue akan menjadi teman yang setia dan menginspirasi kita semua.

Yuk, segera dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com! Pastikan kamu mengeklik banner di bawah ini untuk berbelanja lebih hemat, ya! 🛒⤵️

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Sumber gambar header: freepik.com

Penulis: Naela Marcelina

Editor: Puteri C. Anasta