Valerie Patkar dari Hobi Makan Pinggir Jalan hingga Film Festival

AUTHOR OF THE MONTH: Valerie Patkar, dari Hobi Makan Pinggir Jalan Hingga Film Festival

Nama Valerie Patkar mulai dikenal sebagai salah satu penulis muda berbakat setelah merilis novel Claires dan juga Nonversation. Namun, selain menulis, ternyata Valerie juga memiliki profesi lain, yang dijalaninya secara profesional, lho Grameds.

Valerie yang merupakan sarjana teknik pertambangan ini memiliki pekerjaan yang jungkir balik dari latar belakang pendidikannya.

“Gue tuh baru lulus tahun ini, Teknik Pertambangan di universitas swasta, tapi kerjanya jauh dari bidang pertambangan. Gue sekarang di digital marketing. Handle jadi managernya,” ungkap Valerie Patkar saat berkunjung ke kantor Gramedia.com, baru-baru ini.

Seperti kebanyakan pekerja lainnya, tentunya dia juga menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, dari Senin hingga Jumat.

“Sehari-hari kayak orang biasa aja. Bangun, kerja, ngerjain kerjaan, pulang. Kesehariannya ya kayak kalian semua,” lanjutnya.

Wah, kalau disibukkan dengan pekerjaan kantor, bagaimana meluangkan waktu untuk menulis? Hebatnya, perempuan berzodiak Aquarius ini selalu bisa membagi waktu, antara bekerja di kantor dengan kegiatan menulisnya.

VALERIE PATKAR”><figcaption style=

“Kalau nyari waktu nulisnya, biasanya pagi habis bangun atau sebelum tidur,” ungkapnya antusias.

Selain itu, perempuan yang juga penggemar boy band EXO ini mengungkapkan, dia juga menghabiskan akhir pekan selayaknya anak muda seusianya. Tentunya juga dengan melakukan hal-hal yang disukainya.

Misalkan saja, suka mengeskplorasi tempat-tempat baru. “Gue seneng hal kecil, perintilan kecil, suka eksplor sih. Gue suka jalan ke tempat pinggiran jalan, pasar kue subuh, jalan ke pasar gitu suka sih,” tuturnya.

Kebetulan, rasa suka mengeksplorasi tempat baru ini, semakin menjadi, seiring dengan penulisan novel Nonversation. Pasalnya, saat riset untuk novel terbarunya itu, Valerie harus mengunjungi beberapa tempat baru.

VALERIE PATKAR”><figcaption style=

“Sebenernya diawalin saat riset Nonversation ini. Jadi pasar kue subuh dan ada soto tangkar di Sabang, yang dijadiin tempat khusus di Nonversation. Gue riset ke sana. Setelah ngeliat-ngeliat meski nggak asik buat nongkrong, tapi di sana bikin gue merasa di antara keramaian banyak yang bisa gue pikirin, itu jadi inspirasi gue juga, mulai dari riset itulah, gue jadi suka tempat aneh,” ucapnya.

Dia pun mengaku lagi suka nonton film-film festival nih, Grameds. “Belakangan lagi suka banget film-film festival. Jadi lagi suka hunting waktu screening-nya. Kalau sehari-hari sering baca buku, denger lagu. Hobi gue juga mainstream kayak kebanyakan orang,” ungkapnya.

Beberapa film yang baru saja ditonton Valerie antara lain Sekala Niskala, 27 Stapes of May dan Love Is a Bird. Selain film-film festival, Valerie juga hobi menonton film-film Marvel.

Hm, Kalau soal film-film Marvel, pasti banyak yang suka juga kan, Grameds?

Cerita Rintik Sedu tentang Buku Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang

(AUTHOR'S INTERVIEW) Cerita Rintik Sedu tentang Buku Puisi Pertamanya

Rintik Sedu menerbitkan buku kumpulan puisi perdananya berjudul “Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang” pada pertengahan Februari 2020 lalu.

Buku tersebut terbilang spesial karena ia berkolaborasi dengan penyair ternama, Sapardi Djoko Damono.

Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang digadang-gadang sebagai karya lintas generasi karena menyatukan dua penulis yang memiliki rentang umur yang jauh alias dari generasi yang berbeda.

Rintik Sedu atau pemilik nama asli Nadhifa Allya Tsana bercerita tentang terbitnya buku ini kepada tim Gramedia.com.

sinopsis
Rintik Sedu berkunjung ke kantor Gramedia.com. (Foto: Muhammad Fachrio Alhadar/Gramedia.com)

Kolaborasi ini bermula ketika Tsana diundang sebagai bintang tamu oleh sebuah media daring bersama dengan Sapardi Djoko Damono.

Konsep acaranya adalah perayaan usia puisi Sapardi yang berjudul Duka-Mu Abadi.

“Aku satu panel dengan Sal Priadi dan tentu saja Pak Sapardi. Aku dan Sal sebagai fans Pak Sapardi yang menginspirasi dan terinspirasi untuk bikin karya selain buku. Dari situ, kami ngobrol-ngobrol dan finally Pak Sapardi tahu bahwa aku juga menulis,” terang Tsana saat berkunjung ke kantor Gramedia.com beberapa waktu lalu.

Setelah Tsana dan Sapardi saling mengikuti di Instagram usai acara tersebut, tiba-tiba Sapardi menawarkan Tsana untuk “nulis bareng”.

Tsana merasa tidak percaya bahwa penulis sekelas Sapardi memintanya berkolaborasi bersama dalam sebuah karya.

“Pak, ini kalau bapak salah kirim terus saya sudah keburu senang terus nggak jadi, sakitnya lumayan nih, Pak,” ujar Tsana menerangkan isi percakapan tawaran Pak Sapardi.

Tsana menyebutkan bahwa proses kreatif kolaborasi ini berpusat pada inspirasi Sapardi terhadap karakter Rintik Sedu.

Sapardi membaca semua tulisan Rintik Sedu yang bentuknya nyeleneh dan suka bercanda. Sapardi bahkan mendegarkan Podcast Rintik Sedu di Spotify.

“(Setelah itu) terus dibikin dan dilurusin jadi sebuah puisi—sebuah sastra—yang pas dibaca lagi, kayak, apa benar ini dari tulisanku,” jelas Tsana.


Baca juga: Puisi-Puisi Lintas Generasi dari Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu


Fans Berat Karya-Karya Sapardi Djoko Damono

Saat ditanya kesulitan berkolaborasi dengan Sapardi, Tsana menyebutkan tidak terlalu sulit.

Tsana sudah sejak lama kenal dengan karya-karya Sapardi Djoko Damono. Perkenalan pertamanya adalah dengan puisi Hujan Bulan Juni yang ditemukannya di buku pelajaran Bahasa Indonesia saat ia masih duduk di bangku SMP.

“Dari situ, jadi penggemar berat—fans berat. Jadi pembaca banget,” tegas Tsana.

Tsana takkan lupa pada interaksi pertamanya dengan Sapardi. Ia baru lulus SMA sekitar tahun 2016.

Kala itu grup musik AriReda menggelar konser mini di Teater Ismail Marzuki, Cikini. Acara tersebut juga dihadiri oleh Sapardi yang juga mengisi acara dengan membaca puisi.

“Untuk pertama kalinya aku ketemu dan melihat wujud asli (Sapardi), bentuk nyatanya langsung, lagi baca puisi. Ya, rasanya ketemu—melihat langsung idola—tuh gimana gitu,” kenang Tsana sambil tersenyum.

Selain karena sudah kenal Sapardi dari karya-karyanya, Tsana juga mudah berkomunikasi dengannya melalui berbagai medium.

Mereka akan berkorespondensi secara bergantian bersama Mirna Yulistianti selaku editor yang juga ikut andil dalam proses terbitnya buku ini.

Kesulitan berarti bagi Tsana adalah saat menghadapi penggemar Sapardi. Saat pertama kali Sapardi membuat pernyataan akan menulis bersama Rintik Sedu, Tsana agak mendapat tekanan sehingga membuatnya takut.

“Itu agak dapat pressure-nya dari pembaca Pak Sapardi yang mungkin kalau mereka disuruh menulis akan lebih bagus dari aku,” terang Tsana menerangkan asumsi dari komentar penggemar Pak Sapardi di media sosial.

Namun, Tsana berusaha berani untuk melanjutkan kolaborasi karyanya dengan Sapardi. Ia malah mengaku ia menikmati rasa takutnya.

“Walaupun mereka nggak percaya dengan aku, aku mengusahakan yang terbaik. Dan ketika hasilnya sudah ada, mungkin mereka baru bisa komentar lagi,” pungkas Tsana.

sinopsis
(Sumber: Gramedia Pustaka Utama)

Buku kumpulan puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang karya Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu sudah beredar di toko buku online kesayanganmu, Gramedia.com.

Kamu juga bisa membaca versi digitalnya di Gramedia Digital.


Baca juga: (Author’s Interview) Almira Bastari Cerita Stigma Perempuan Lajang dalam Ganjil-Genap

Petualangan Mencari Jalan Pulang Bersama Makhluk Halus

Komik Ghost Parade: Petualangan Mencari Jalan Pulang Bersama Makhluk Halus

Apa rasanya tersesat di hutan yang konon dihuni oleh banyak makhluk halus? Tentunya mendebarkan. Siapa pun akan mencari cara untuk cepat-cepat keluar dari hutan itu. Selain gelap dan sunyi, makhluk halus yang terkenal seram juga menjadi sebab.

Hal tersebut terjadi pada Suri, seorang anak SD yang tersesat di dalam hutan yang terkenal angker saat perjalanannya pulang ke rumah. Hutan tersebut bernama Hutan Svaka, sebuah hutan suaka yang juga berfungsi untuk melestarikan keanekaragaman hewan dan tumbuhan.

ghost
Sumber foto: Dok. Elex Media Komputindo

Saat memasuki hutan, ia bertemu dengan berbagai makhluk halus, di antaranya Tuyul dan Poci. Untungnya, Suri adalah gadis yang berani dan berkemampuan spesial sehingga ia bisa berteman dengan para makhluk halus tersebut. Namun sayangnya, tidak semua makhluk di hutan itu bersahabat dengan manusia.

Selama perjalanan, tantangan demi tantangan harus mereka lewati bersama. Akankah Suri, Tuyul, dan Poci bisa selamat? Apakah Suri bisa kembali pulang ke rumah?

ghost
Sumber foto: Dok. Elex Media Komputindo

Cerita dalam komik yang berjudul “Ghost Parade” karya Azizah Assattari ini bukanlah produk pertama dari intellectual property (IP) Ghost Parade. Tahun 2019, Lentera Nusantara Studio yang dibangun oleh Assattari ini lebih dulu mengembangkan cerita Ghost Parade dalam medium video game dan meluncurkannya melalui Aksys Games, sebuah perusahaan video game publisher ternama yang bermarkas di California, Amerika Serikat. Ghost Parade akhirnya mendunia melalui game yang dirilis dalam format PlayStation 4, Nintendo Switch, dan PC Steam.

Ghost Parade populer di Eropa, Jepang, dan Taiwan karena memiliki keunikan dalam story line. Elemen-elemen Nusantara yang dimasukkan ke dalam game tersebut, seperti backsound lagu dengan nada etnik tradisional, karakter makhluk halus dan makhluk mitologi khas Indonesia, serta bangunan ikonik Nusantara yang menjadi background dalam game menjadikannya ini berbeda dan menarik.

ghost
Sumber foto: Gamespiere!

Kesuksesan game tersebut yang sekaligus juga berhasil mengenalkan kekayaan budaya Nusantara ke dunia Internasional, membawa Assattari dinobatkan menjadi 10 Pemuda Paling Berpengaruh di Indonesia tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo. Ke depannya, Ghost Parade juga akan dikembangkan menjadi beragam karya, seperti film animasi, merchandise, dan wahana permainan.

Tahun ini, Lentera Nusantara merilis cerita Ghost Parade dalam bentuk komik yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Penggemar komik bisa membelinya mulai tanggal 24 Februari 2021 di Gramedia seluruh Indonesia.

Penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Ikuti petualangan Suri, Tuyul, dan Poci dalam komik “Ghost Parade”.

ghostIkuti Petualangannya Sekarang!

Mau beli bukunya lebih hemat? Spesial untuk kamu yang baca artikel ini, kamu dapat diskon 20% untuk pembelian di Gramedia.com. Beli sekarang dan gunakan vouchernya, yuk!

voucherKlik untuk Dapatkan Vouchernya!


Oleh: Annisa Ardiani, Content Writer Rekata

Sumber foto header: gridgames.id

Bantu Temukan Jalan Hidup yang Lebih Bermakna

The Comfort Book: Bantu Temukan Jalan Hidup yang Lebih Bermakna

Hari-hari dalam hidup selalu diwarnai dengan cerita baru, hal-hal seru, atau bahkan menyedihkan. Setelah meluapkan emosi dengan tangisan, kadang kita juga butuh didengarkan, tapi tidak semua teman atau keluarga bisa memahami keadaan.

Mungkin ada beberapa dari kita yang melampiaskannya dengan self healing, makan makanan kesukaan, mendengarkan lagu favorit, atau membaca buku self improvement yang super menarik.

Nah, buku terbaru yang ditulis oleh Matt Haig dengan judul The Comfort Book, hadir untuk menemani kamu agar bisa menemukan harapan baru dan mencari jalan hidup yang lebih bermakna. Buku yang berisi kutipan ini bagaikan pelukan hangat yang menenangkan untuk para pembaca.

Tidak apa-apa untuk mengatakan tidak baik-baik saja, tidak apa-apa untuk patah, tidak apa-apa sesekali melakukan kesalahan, karena nyatanya setiap dari kita adalah sosok manusia yang sama-sama baru pertama kali hidup di dunia. Segala hal yang telah kita lalui adalah bagian dari pelajaran hidup dan kita harus menerimanya sebagai bagian dari diri kita.

“Rasanya seperti paradoks yang aneh, betapa banyak pelajaran hidup yang paling jelas dan menghibur malah kita dapatkan ketika sedang berada pada kondisi paling terpuruk.”

The Comfort Book berisi kumpulan-kumpulan kalimat indah sebagai penghibur bagi jiwa-jiwa yang terluka. Dalam buku ini dikisahkan pula bagaimana Matt Haig menghadapi masa-masa sulit, serta saran-saran yang dia berikan untuk menghadapi hari yang buruk menjadi lebih baik. Menariknya, buku self impovement ini juga mengacu pada pepatah, memoar, dan kehidupan inspirasional orang lain yang pernah tersesat dalam menghadapi cobaan, namun mampu menemukan kembali jalan kebahagiaannya.

Matt Haig berhasil menulis buku ini dengan berbagai kondisi serta situasi yang pernah dihadapi manusia, dari terang dan gelapnya kehidupan, hingga menghadirkan cerita yang luar biasa.

Matt Haig pun berharap buku ini bisa menjadi teman kita, yang berisi kebijaksanaan, kenyamanan sebuah pelukan, hingga pengingat bahwa harapan selalu datang pada tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

“Kesepian itu bukan karena tidak ada kawan, tapi karena kita tersesat. Obat kesepian bukanlah banyak kawan, tapi memahami siapa diri kita.”

Hidup selalu ditemani dengan sisi positif dan negatif. Namun terkadang beberapa orang sulit mengendalikan kapan dirinya harus berhenti dan memulai. Jika yang dijalani adalah kehidupan yang positif, maka itu akan lebih baik, tapi jika itu negatif, maka hidup kita akan terasa lebih menderita.

Adapun dalam buku ini, terdapat sepuluh hal yang tidak akan pernah bisa membuat hidup kita menjadi lebih bahagia jika kita terus menerus melakukan hal ini.

  1. Berusaha menjadi orang lain, bukan menjadi diri sendiri
  2. Tidak bisa menerima masa lalu yang merupakan bagian dari hidupmu
  3. Melampiaskan luka pada orang lain
  4. Mencoba mengalihkan diri dari rasa sakit dengan melakukan sesuatu yang menciptakan lebih banyak rasa sakit
  5. Tidak bisa memaafkan diri sendiri
  6. Menunggu orang memahamimu ketika mereka sendiri tidak mengerti
  7. Membayangkan kebahagiaan adalah segalanya ketika kamu berhasil menyelesaikan semuanya
  8. Mencoba mengendalikan hal-hal di alam semesta yang tidak bisa kamu kendalikan
  9. Menghindari kenangan menyakitkan
  10. Kurangnya keyakinan bahwa kamu juga berhak bahagia

Itulah sepuluh poin yang harus dihindari dalam hidup jika ingin bahagia. Manusia memiliki rasa takut itu lumrah, tapi kita tetap tidak boleh kalah dan tenggelam dalam rasa takut yang dimiliki. Menyerah bukanlah solusi terbaik, melainkan kita harus berusaha menghadapinya.

“Rasa takut adalah unsur penting dalam keberanian, dan orang yang paling berani adalah mereka yang merasa takut tapi terus melangkah.”

Setebal 272 halaman pada buku ini berisi kenyamanan dan kehangatan dari kumpulan kutipan, quotes, filosofi, cerita atau personal notes yang ditulis oleh Matt Haig. Bukunya pun ditulis dengan bahasa sastra yang indah dan mudah dipahami pembaca.

Sangat cocok dijadikan teman, di saat kamu sedang berada di titik terendah dalam hidup, merasa kesepian, hampa, dan dibalut kekecewaan yang selalu menerjang duniamu.

bukuTemukan Jalan Hidupmu Melalui Buku Ini!

Buku yang Membuat Kita Nyaman atau The Comfort Book, mampu membuat kita melihat hidup dari sisi yang berbeda. Ada beberapa dari kita yang mungkin merasa hidupnya gagal, hidupnya sudah tiada lagi artinya, namun nyatanya hidup kita lebih berharga dari apapun.

Ayo, segera miliki buku self improvement populer yang ditulis oleh Matt Haig ini, dan temukan jalan hidup terbaikmu dalam Buku yang Membuat Kita Nyaman atau The Comfort Book.

Buku ini juga bisa kamu dapatkan dalam versi e-book di sini >>> The Comfort Book: Buku yang Membuat Kita Nyaman

Jangan sampai ketinggalan untuk ikuti semua diskon spesial yang ada di Gramedia.com ya! Cek semua promo menarik yang sedang berlangsung di bawah ini.

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!

Belanja di Gramedia.com juga bisa dikirim dan diambil dari seluruh toko Gramedia yang terdekat dari rumahmu, lho. Belanja jadi makin asyik, tanpa ribet, hemat ongkir, dan cepat sampai rumah!

warehouse


Sumber foto header: Dok. Gramedia.com