(REVIEW BUKU) China’s Disruptors, Kisah Pengusaha yang Mengubah China

(REVIEW BUKU) China's Disruptors, Kisah Pengusaha "Pengganggu" yang Mengubah China

Di awal buku China’s Disruptors (PT Elex Media Komputindo, 2018), Edward Tse menceritakan sebuah kisah yang telah jadi legenda. Di suatu hari pada pertengahan 1980-an, Zhang Ruimin, pemimpin yang baru setahun ditunjuk pemerintah mengelola Pabrik Kulkas Qingdao, menjejerkan 76 kulkas yang baru selesai diproduksi. Kulkas-kulkas itu diketahui punya sejumlah masalah.

Zhang bertanya pada karyawannya, sebaiknya diapakan kulkas-kulkas tersebut. Dijual dengan harga diskon, jawab seorang karyawan. Tawarkan ke pegawai perusahaan, usul yang lain.

Zhang menolak dua usul itu. Menurutnya, mereka seharusnya tidak menghasilkan kulkas rusak seperti ini. Ia lalu mengambil palu besar, menghantamkannya pada satu dari 76 kulkas yang dijajar. Ia juga memaksa karyawan lain menghancurkan 75 kulkas lainnya.

Palu besar yang dipakai Zhang memukul kini masih disimpan dengan baik di sebuah museum di Beijing. Di tangan Zhang Pabrik Kulkas Qingdao menjadi Haier, salah satu perusahaan multinasional pembuat perabot elektronik terbesar di dunia.

Tidak sampai 10 tahun lalu, barang-barang buatan China kerap dapat cap buruk: gampang rusak, murahan, dan hasil imitasi. Namun citra buruk itu kini sirna. Tengok saja handphone. Handphone-handphone buatan China kini boleh dibilang merajai pasaran, membenamkan pesaing dari Korea dan Amerika.

Di sektor e-commerce, China juga kian mendominasi. Alibaba bersaing ketat dengan Amazon di level dunia. Di Indonesia, situs e-commerce China juga turut bertarung ketat memperebutkan pasar negeri yang rimbun.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana China bisa menjadi seperti sekarang? Apa yang dilakukan para pengusahanya? Apa yang dilakukan pemerintahnya? Terutama, apa yang bisa kita pelajari dari kesuksesan pengusaha China?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab dengan baik oleh Edward Tse di bukunya, China’s Disruptors. Ia orang yang tepat untuk mengisahkan bagaimana China menjadi CHINA–dengan huruf kapital semua sebagai penanda kebesaran.

Buku
Gramedia.com/Ade Irwansyah

Tse adalah CEO perusahaan konsultan bisnis Geo Feng Advisory Company. Sebagai konsultan bisnis yang telah malang melintang di China daratan dan Hong Kong ia melihat kebangkitan wirausahawan China dari dekat.

Sebagai penulis ia bertutur amat lancar dan enak dibaca di buku China’s Disruptors. Kemampuannya yang satu ini juga tidak diragukan lagi. Tse telah banyak menulis artikel bisnis untuk Harvard Business Review, Strategy + Business, South China Morning Post dan China Daily.

Tse menyebut pengusaha-pengusaha China yang kini mewarnai kancah bisnis dunia sebagai “disruptor” alias pengganggu. Kehadiran mereka memang mengganggu kenyamanan pemain lama yang telah mapan. Haier mengganggu Sanyo, Sharp dll; Alibaba dan JD.com menggangu gerak Amazon; Tencent lewat produk-produk game-nya mengganggu Sony Playstation dan Xbox sedangkan layanan pesan singkatnya, WeChat mengganggu WhatsApp; mesin pencari Baidu mengganggu Google; Huawei dan Xiaomi mengganggu Samsung dan Apple.

Sukses pengusaha China tak terjadi dalam semalam. Kamu tentu tahu negeri tirai bambu ini punya sejarah panjang hingga ribuan tahun. China salah satu bangsa tertua di dunia. Sejumlah inovasi terbesar lebih dulu ditemukan orang China sebelum Barat, seperti pembuatan kertas, mesin cetak, kompas, dan bubuk mesiu.

Namun sumber kelahiran pengusaha China masa kini dimulai saat Mao Zedong mendirikan negeri China modern atau Republik Rakyat China (RRC) pada 1949 setelah melewati penjajahan bangsa lain, invasi Jepang, dan perang saudara. Di bawah ideologi komunis, Mao memerintah dengan sistem yang melarang siapa pun terlihat lebih unggul dengan mengorbankan orang lain. Dunia wirausaha dan segala hal lainnya begitu dikekang.

Mao kemudian menggagas serangkaian gerakan politik (termasuk Revolusi Budaya di akhir 1960-an hingga awal 1970-an) yang mengorbankan belasan juta jiwa, menghambat aspirasi warga negara, dan menghancurkan perekonomian. (hal. 59)

Jalan Kebangkitan Pengusaha Pengganggu

Penerus Mao, Deng Xiaoping, menyadari kondisi itu tak bisa terus dipertahankan. Ia lantas melakukan serangkaian reformasi ekonomi. Reformasi pertama di mulai di pedesaan.

Lewat program yang disebut “Sistem Tanggung Jawab Rumah Tangga” para petani memiliki kontrak yang mewajibkan mereka menjual hasil panen dalam jumlah tertentu kepada negara. Setelah itu mereka berhak bebas menjual sisa hasil panen ke pasar. Setelah melalui tekanan bertahun-tahun lamanya, strategi ini merangsang produksi agrikultur semakin meningkat sebesar 10 persen per tahun sepanjang 1980-an.

Kebangkitan para pengusaha pengganggu (disruptors) ini patut diacungi jempol mengingat sejak wafatnya Mao Zedong tahun 1976, di negeri yang kini berpenduduk 1,4 miliar ini, sama sekali tidak ada perusahaan swasta. Seluruh industri dan agrikultur dimiliki publik, dijalankan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, ataupun secara kolektif.

Tse menulis, para pengusaha pengganggu ini–seperti Jack Ma, pemilik Alibaba hingga Rubin Li, pemilik Baidu–memiliki ambisi, bakat kewirausahaan serta mimpi membuat China bangsa yang kembali besar. Jack Ma, misalnya, saat Alibaba hanya memiliki karyawan kurang dari 20 orang sudah mengatakan:

“Kami tidak mau menjadi nomor satu di China. Kami ingin menjadi nomor satu di dunia.” (hal. 51)

Mengubah Wajah China

Tidak bisa dipungkiri, peran pemerintah amat besar pada pengusaha-pengusaha pengganggu ini. Pemerintah membiarkan mereka tumbuh besar dengan harapan masyarakat kemudian turut menikmati kemakmuran ekonomi dari usaha-usaha yang sukses tersebut. Harapannya, tentu saja, bila perut rakyat kenyang dan hidup berkecukupan mereka takkan lagi menuntut perubahan sistem politik. Pendek kata, rakyat nyaman, penguasa aman.

Di sini kemudian kita melihat hal yang luput dibahas di buku ini—mungkin karena pada dasarnya ini buku bisnis dan bukan buku politik, apalagi penulisnya orang China.

Sementara itu dengan amat halus, Edward Tse mengatakan dengan tersirat perubahan politik adalah sebuah keniscayaan. Pemerintah tak bisa selamanya mengekang kebebasan dan kreativitas warganya. Itu sebabnya di akhir-akhir buku ia menyimpulkan agen perubahan sosial di China masa depan bukanlah aktivis pro-demokrasi yang memperjuangkan hak berbicara, melainkan para pengusaha yang ingin hambatan-hambatannya dalam berusaha tak dibatasi negara.

Perusahaan startup kita bisa banyak belajar dari pengusaha-pengusaha pengganggu di China. Seperti mereka, seharusnya startup-startup Indonesia yang sudah berstatus unicorn bisa menjadi agen perubahan sosial juga: membuat kehidupan masyarakat lebih praktis dan mudah, mendorong pemerintah menyediakan infrastruktur yang lebih baik, serta pada akhirnya membuat seluruh negeri makmur.

Di luar minim kritik pada pemerintah China, buku China’s Disruptors bisa jadi peta jalan bagaimana negara dan pengusaha bersinergi demi menciptakan kehidupan yang lebih baik.

CHINA’S DISRUPTORS
Penulis: Edward Tse
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 304

Chinas

Dapatkan e-book-nya di sini >>

Jack Ma & 6 Pengusaha Pengubah Aturan Bisnis di China’s Disruptors

Jack Ma dan 6 Pengusaha Pengubah Aturan Bisnis di China’s Disruptors

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.”

Demikian kata-kata bijak yang sering kita dengar. Ungkapan itu memiliki pesan agar kita senantiasa mencari ilmu hingga ke tempat-tempat yang jauh, bahkan hingga ke China.

Namun, di masa kini pesannya bertambah. Bangsa China telah membuktikan diri jadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Maka, untuk menjadi bangsa yang besar salah satu caranya dengan mengambil pelajaran dari negeri Tirai Bambu itu.

Belajar ke sana langsung, boleh. Cara lain bisa juga lewat baca buku. Salah satunya buku ini, China’s Disruptors karya Edward Tse yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada 2018 lalu.

Di bukunya, Tse menekankan sukses ekonomi bangsa China saat ini antara lain digerakkan oleh pengusaha-pengusahanya. Mereka tumbuh besar dan pada gilirannya turut mengangkat harkat hidup masyarakat keseluruhan.

Pengusaha-pengusaha ini disebut Tse sebagai pengganggu alias disruptor, lantaran mereka mengubah aturan bisnis yang sebelumnya banyak dikuasai pengusaha dari Barat atau negeri Asia lain.

Lalu, siapa saja yang disebut para pengusaha pengganggu dari China tersebut. Yuk, kenalan dengan mereka. Berikut tujuh di antaranya.

Siapa tahu kamu ternyata mengkonsumsi produk mereka, dan terutama sih, siapa tahu kamu terinspirasi ingin seperti mereka. Langsung cek daftar di bawah ini.

1. Jack Ma

Trivia
Sumber: BBC

Jack Ma adalah pendiri kerajaan Alibaba Group, yang menguasai pasar e-commerce dan pembayaran elektronik di China. Ma mendirikan Alibaba pada 1999. Penawaran umum perdana (IPO, initial public offering) saham Alibaba pada 2014 senilai USD 25 miliar atau sekitar Rp 330 triliun.

Hingga saat ini Alibaba menjadi salah satu perusahaan dengan IPO yang terbesar di dunia. Di Indonesia, Alibaba berinvestasi di Tokopedia, Lazada, layanan logistik J&T, serta layanan e-money Dana.

2. Pony Ma

Trivia
Sumber: Jing Daily

Pemilik Tencent, perusahaan yang berlokasi di Shenzen ini mendominasi permainan daring (game online) dan pesan singkat di China.

Kini menjadi rival utama Alibaba dalam urusan e-commerce.  Kalau kamu suka main game PUBG, itu salah satu contoh produk Tencent.

3. Robin Li

Trivia
Sumber: Bloomberg

Robin Li merupakan pendiri dan penemu perusahaan mesin pencari (search engine) dan jejaring sosial, Baidu. Saat ini baidu menguasai sekitar 60 persen aktivitas mesin pencarian di internet untuk masyarakat China.

Pengaruh baidu, bersama Alibaba dan Tencent disebut trio perusahaan internet milik China yang paling menonjol.

4. Ren Zhengfei

Trivia
Sumber: The Straits Times

Sosok yang satu ini merupakan pendiri Huawei, eksportir swasta terbesar China. Tak cuma itu, ia juga dikenal sebagai salah satu manufaktur telepon genggam dan peralatan jaringan telekomunikasi telepon rumah terbesar di dunia.

5. Yang Yuanqing

Trivia
Sumber: The Business Journals

Sebagai direktur utama Lenovo, ia telah membangun perusahaan tersebut menjadi penjual nomor satu dunia dalam hal computer personal dan berada di lima besar penjualan ponsel.

6. Lei Jun

Trivia
Sumber: The Straits Times

Lei Jun adalah seorang wirausahawan yang bergerak di beragam bidang. Salah satu bisnis terbarunya adalah Xiaomi yang menjadikan China sebagai pasar ponsel pintar terbaik dan menjadi rival utama bagi Samsung.

Ia menggunakan teknik inovatif urun-daya (crowd-sourcing) untuk menentukan arah dari pengembangan produknya dan menjualnya tanpa mengeluarkan biaya marketing.

7. Yu Gang

Trivia
Sumber: Huxiu

Yu Gang pernah menjabat sebagai direktur Del dan kini memiliki supermarket daring, Yihaodian, dengan pendapatan tahunan melonjak mencapai USD 2 miliar atau sekitar Rp 26 triliun hanya dalam waktu lima tahun.

Usaha yang dirintisnya berhasil mengubah masyarakat urban China memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui keberadaan supermarket daring.


Siapa lagi pengusaha China yang jadi pengganggu atau disruptor dan mengubah wajah negeri tersebut? Cari tahu lebih banyak kiprah mereka lewat buku China’s Disruptors.

Jika tak ingin repot, langsung berlangganan dan baca di Gramedia Digital ya. Caranya, langsung klik gambar di bawah ini.

Trivia


Sumber foto header: The Japan Times